Faktor-Faktor yang Membuat Kegagalan Ternak Kroto Semut Rang-Rang

Belajar Ternak – Beternak kroto sering dilakukan seseorang yang berkecimpung di dunia ternak burung. Kesuksesan maupun kegagalan ternak kroto adalah suatu yang bisa saja terjadi bagi para peternak kroto. Kroto sendiri adalah telur atau anakan dari seekor semut cangkrang. Koloni semut cangkrang akan membuat rumah dalam satu koloni, kemudian telur satu koloni ada di dalamnya. 

Terdapat beberapa hal yang mesti dipahami peternak kroto agar tidak mengalami kegagalan. Cermat, teliti dan sabar adalah hal yang tidak bisa dihindari untuk menuai kesuksesan bagi para peternak kroto. Pahami beberapa faktor yang menyebabkan kegagalan dalam ternak kroto, agar dapat berjalan mulus ternaknya. Berikut faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan, diantaranya:

Yang Membuat Kegagalan Ternak Kroto Semut Rang-Rang

kegagalan ternak kroto

1. Tempat yang Kurang Tepat

Semut rangrang membuat sarang di alam bebas yakni di atas pohon. Sarang dari semut rang-rang berupa daun-daun yang dirakit koloni semut rangrang menjadi seperti daun yang menggumpal. Rumah yang di buat semut tersebut tidak bocor air maupun udara. Bila tempat budidaya semut ini tidak tepat, bisa membuat budidayanya gagal. 

Ketika membuat tempat untuk budidaya kroto, maka peternak bisa meniru semut rang-rang dalam membuat sarang. Pastikan tempatnya teduh dan aman dari guncangan angin dan basahnya air. Tapi bukan berarti tidak ada celah untuk udara masuk. Jangan sampai sinar matahari dapat menyengat secara berlebihan pada semut yang berada di dalam.

2. Koloni Baru dan Lama Dicampurkan

Setelah menyiapkan tempat untuk perkembangbiakan kroto. Kemudian sudah menaruh semut rangrang di dalamnya, setelah mulai mengeluarkan kroto jangan menambah semut rangrang yang baru. Jika ingin menambah kuantitas budidaya, siapkan wadah yang berbeda-beda setiap koloninya. Jangan sampai dicampur antara yang lama dengan yang baru.

Agar kegagalan ternak kroto tidak dialami, hal ini mesti dilakukan karena koloni pertama telah menguasai tempat pertama. Maka, jika ada koloni yang baru atau koloni lama belum mengenal, hal ini bisa menjadi sebuah ancaman. Semut rangrang akan saling bertarung, akibatnya kroto yang berada di bisa rusak dan tidak berkembang lagi. 

3. Semut Meninggalkan Sarang

Batas yang dimaksud yaitu selain memberi sekat untuk beberapa koloni, digunakan untuk mengantisipasi kaburnya semut rang-rang. Apabila sarang kemudian ditempelkan di dinding atau  digantung dengan tali tidak pernah dikontrol, maka kemungkinan semut kabur akan tinggi. Usahakan sering mengontrol sarang semut jika memang tempat untuk budidaya terpaksa lebih terbuka, atau bisa juga yang simple adalah dengan penjara air.

4. Tidak Adanya Ratu Semut

Semut rangrang dalam satu koloni memiliki jenis kasta dan tugas yang berbeda-beda. Ratu tugasnya bertelur, pejantan mengawini ratu, prajurit menjaga koloni, dan betina mandul merawat telur. Maka dari itu, sebuah kesalahan fatal apabila berbudidaya kroto tidak diberi ratu di dalamnya. Ratu ibarat mesin produksinya, apabila tidak ada, maka kroto pun tidak ada pula.

5. Memberi Makan yang Kurang Tepat

Apabila saat memberi makanan langsung di dalam sarang koloni semut. Makanan tersebut bisa membusuk, sehingga membuat semut tidak nyaman, meninggalkan sarang, atau bahkan mati di dalamnya. Saat memberikan makan usahakan berada diluar sarang koloni semut. Selain itu, tempatkan makanan semut pada tempat sama atau konsisten.

Demikian faktor-faktor yang membuat kegagalan ternak kroto. Dalam sebuah usaha pasti pernah mengalami yang namanya untung rugi. Maka agar usaha dapat berjalan lancar, pelajari tips-tipsnya dan hindari faktor pembuat kegagalannya. Seperti halnya beternak kroto ini, pahami faktor-faktor pembuat kegagalannya lalu hidari dan meminimalisir tingkat kegagalannya.

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!